Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017

Permasalahan Peredaran dan penyalahgunaan Narkotika merupakan permasalahan yang sangat membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari semua pihak. Narkotika adalah penghancur sebuah bangsa dengan melemahkan generasi muda bangsa tersebut. Oleh karena itu masyarakat internasional dalam menanamkan semangat pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkotika  menetapkan tanggal 26 Juni sebagai Hari Anti Narkotika Internasional (HANI).

HANI didirikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1987. Sedangkan peringatannya dimulai pada tanggal 26 Juni 1988. Penetapan tanggal tersebut didasari pada memperingati jasa-jasa Lin Zexu atas pengungkapan perdagangan opium di Humen, Guangdong. Lin Zexu adalah seorang pejabat yang hidup dan mengabdi pada masa Kaisar Daoguang dari Dinasti Qing. Peringatan HANI juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya berjuang melawan penyalahgunaan narkoba dan perdagangan obat ilegal. Tujuan utama memperingati HANI adalah untuk memeperkuat aksi dan kerjasama di semua tingkatan untuk membangun masyarakat agar terebas dari penyalahgunaan narkoba.

Pada hari Kamis 13 Juli 2017 Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman bekerjasama dengan BNNP DIY dan BNNK Sleman melaksanakan kegiatan peringatan HANI Tahun 2017 Tingkat DIY yang bertempat di Gedung Serba Guna, Denggung, Sleman. Kegiatan dihadiri oleh Gubernur DIY yang pada kesempatan ini diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY, Bupati dan Walikota se-DIY, SKPD terkait Kabupaten/Kota se-DIY, FORKOMPINDA DIY ,danPengurus Satuan Tugas Anti Narkoba.

Pada Kesempatan ini Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta membacakan amanat dari Presiden Republik Indonesia. Dalam amanatnya Presiden RI mengajak untuk meneguhkan perlawanan terhadap kejahatan luar biasa yang masih menjadi tantangan negara-negara di dunia, termasuk kita di indonesia.

Di dalam negeri kita, kata Presiden, jumlah pengguna terus meningkat. Tahun 2015 diperkirakan angka prevalensi penggunaan narkoba mencapai 5,1 juta orang. Dan angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba, tadi Kepala BNN menyampaikan kepada saya, setiap hari 40 sampai 50 [orang] generasi muda kita mati karena narkoba.

Kerugian material diperkirakan kurang lebih Rp 63 triliun, yang menyangkut kerugian akibat belanja narkoba, kerugian akibat biaya pengobatan, kerugian akibat barang-barang yang dicuri, dan kerugian akibat biaya rehabilitasi dan biaya-biaya lainnya.

Dan lebih mengkhawatirkan lagi, kejahatan luar biasa ini sudah merengkuh berbagai lapisan masyarakat. Tadi sudah disampaikan Kepala BNN, anak di TK sudah ada yang terkena narkoba, anak di SD juga sudah ada yang terkena narkoba. Dan tidak hanya di desa, di kampung, tidak hanya di kota.

Tidak hanya orang dewasa, remaja, anak, bahkan yang tadi saya sampaikan yang di TK pun sudah terasuki narkoba. Tidak hanya orang biasa tapi juga ada aparat, ada pejabat yang ini seharusnya menjadi panutan, terkena narkoba.

Para pengedar narkoba terus bergerak dan menemukan cara-cara baru untuk mengelabui kita, mengelabui aparat hukum kita. Mereka sudah mulai memanfaatkan orang-orang yang tidak dicurigai, anak digunakan, wanita digunakan, dimanfaatkan untuk menjadi kurir narkoba dan adanya modus baru dalam penyelendupan narkoba ke dalam mainan anak dalam kaki palsu dan lain-lainnya.

Semua itu harus dihentikan, harus dilawan dan tidak bisa dibiarkan lagi. Kita tegaskan perang melawan narkoba di Indonesia.

Presiden mengingatkan kepada kita semua, di kementerian, di lembaga di aparat-aparat hukum kita, terutama di Polri. Juga Beliau menegaskan sekali lagi kepada seluruh Kapolda, jajaran Polda, kepada jajaran Polres, Polsek, semuanya kejar mereka, tangkap mereka, hajar mereka, hantam mereka. Semua harus bersinergi, pesanteran, universitas, kementerian, lembaga, kabupaten/kota, provinsi, semuanya. Semua harus bersinergi mulai BNN, Polri, kementerian, lembaga, LSM, masyarakat, semua harus betul-betul melakukan langkah-langkah yang terpadu untuk melawan narkoba, langkah-langkah yang progresif yang mengalahkan kelicikan para pengedar narkoba. Dan tidak kalah penting semua harus menghilangkan ego masing-masing, ego sektoral.

Dengan kekuatan dan kecerdasan kita bersama sekali lagi, kita kejar, kita tangkap, kita hajar para pengedar narkoba, baik yang besar, sedang, kecil sampai kita kuatkan lagi jaringan sosial dan budaya yang bisa menjadi benteng mencegah menjamurnya narkoba. Di manapun ada narkoba di Indonesia, Presiden  memerintahkan seluruh sumber daya pemerintah untuk hadir dan memberantasnya di lapas, di sekolah, di perbatasan, di bandara, di pelabuhan, kantor-kantor, instansi pemerintah, dimana pun, sekali lagi dimana pun ada narkoba kita harus berantas. Negara kita, Indonesia, tidak boleh dijadikan lalu lintas peredaran dan perdagangan narkoba lagi. Apalagi menjadi tempat produksi barang-barang tersebut. Sekali lagi saya ingatkan saatnya kita melawan narkoba pungkas Presiden dalam amanatnya.

Pada kegiatan tersebut juga dilakakukan pengukuhan Satgas dan Penggiat Gerakan Anti Narkoba dari 28 Desa se-Kabupaten Sleman dan Satgas Siswa dari sekolah di wilayah Kabupaten Sleman.

Comments are closed

  • Bantu kami untuk mengisi survey agar kami bisa menjadi lebih baik