Kabupaten Sleman sering disebut Indonesia mini. Sebagian suku bangsa di Indonesia ada di Sleman dalam rangka studi. Selain suku, juga budaya, agama, dan golongan ada di wilayah Sleman. Perjumpaan bermacam suku, budaya, agama, dan golongan dapat berpotensi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan atau sebaliknya. Di wilayah Kabupaten Sleman yang memiliki kriteria seperti itu adalah wilayah Kecamatan Depok. Oleh karena itu untuk mengantisipasi terjadinya potensi konflik yang bersumber dari perbedaan suku, budaya, agama, dan golongan yang ada dan bersandingan pada masyarakat Kecamatan Depok, maka Kantor Kesatuan Bangsa bekerjasama dengan Forum kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Sleman mengadakan kegiatan Dialog Antisipasi Konflik Sosial yang bertempat di Gedung Anglocita Kecamatan Depok pada hari Rabu 24 Agustus 2016. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan Aparat Keamanan di wilayah Kecamatan Depok, dengan menghadirkan narasumber dari Polres Sleman (AKP. Ani Sulistyorini/ Ka Sat Binmas Polres Sleman), Kepala Seksi Kewaspadaan dan Ketahanan Nasional Kantor Kesatuan Bangsa Kabupaten Sleman (Bapak Eddy Sutikno Slamet, SH), dan Ketua FKDM Kabupaten Sleman (Bapak Pdt. Agus Haryanto, S.Th, M.Min).
Kegiatan Dialog Antisipasi Konflik Sosial tersebut diawali dengan sambutan Camat Keamatan Depok yang diwakili oleh Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Depok (Bapak Aris). Dalam sambutannya, beliau menyampaikan kondisi masyarakat wilayah Kecamatan Depok yang sangat heterogen. Berbagai suku bangsa, agama, dan golongan ada di wilayah ini. Hal tersebut dikarenakan banyak warga suku bangsa lain yang berdatangan dan bertempat tinggal sementara maupun akan menetap di wilayah Depok, dengan tujuan mayoritas untuk menimba ilmu. Di wilayah Kecamatan Depok terdapat banyak Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta. Oleh karena banyaknya perbedaan suku tersebut, maka akan banyak juga perbedaan budaya yang mereka bawa ke tempat tinggalnya sekarang. Hal tersebut akan menjadi salah satu potensi konflik yang akan timbul pada masyarakat. Untuk mengantisipasi potensi-potensi tersebut, maka dihimbau kepada warga masyarakat untuk memiliki rasa peka terhadap dinamika yang terjadi pada masyarakat. Dengan kepakaan tersesbut diharapkan dapat meredam potensi-potensi konflik yang akan muncul.


